KATA PENGANTAR
Dengan
mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya,
sehingga penyusunan makalah dengan judul Prinsip-Prinsip
Utama Ekologi dapat berjalan tanpa halangan yang berarti, dari awal sampai
selesai.
Penulisan makalah ini berdasarkan
literatur yang ada. Penyusun menyadari akan kemampuan yang sangat terbatas
sehingga dalam penyusunan makalah ini banyak kekurangannya. Untuk itu penyusun
mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk lebih sempurnanya makalah
ini.
Dalam kesempatan ini penyusun
mengucapkan terimakasih atas bimbingan, bantuan serta saran dari berbagi pihak.
Akhir kata penyusun mengucapkan
banyak terima kasih dan semoga tugas ini dapat berguna dan bermanfaat bagi
semua pihak.
Cirebon,
08 Maret 2015
Penyusun
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR
ISI.......................................................................................................... ii
BAB
I PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang................................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah........................................................................................... 1
C. Tujuan Penelitian............................................................................................. 1
BAB
II PEMBAHASAN
A. Pengertian
Ekologi............................................................................................ 2
B. Prinsip-Prinsip
Ekologi
1.
Interaksi.......................................................................................................... 2
2.
Saling Ketergantungan................................................................................... 6
3.
Keanekaragaman............................................................................................ 9
4.
Keharmonisan.............................................................................................. 12
5.
Kemampuan Berkelanjutan.......................................................................... 13
BAB
III PENUTUP
A. Kesimpulan.................................................................................................. 17
DAFTAR
PUSTAKA......................................................................................... 18
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Manusia
pada hakikatnya adalah murid-murid alam atau lingkungan, karena alam dan
lingkungan mengajari mereka banyak hal. Kehidupan sebagai dinamika yang
mengandung pergeseran dan perubahan secara terus-menerus. Oleh karena itu
setiap manusia harus mampu menyesuaikan dirinya dengan alam dan lingkungannya,
serta sesama makhluk hidup yang merupakan bagian dari alam. Dalam hal ini alam
bagi manusia adalah segala-galanya, bukan hanya sebagai tempat lahir, hidup,
berkembang, maupun mati. Akan tetapi juga mempunyai makna filosofis tersendiri.
Alam adalah guru bagi makhluk yang hidup di dalamnya. Dia dapat mempelajari apa
saja yang ada di sekelilingnya. Oleh karena itu lingkungan merupakan
laboratorium alam yang sangat baik dan lengkap, namun belum banyak yang
menyadari dan memanfaatkannya.
Semakin hari, semakin dirasakan oleh
manusia untuk harus mengenal lingkungannya, apalagi perkembangan IPTEK yang
begitu pesat, pola penduduk dunia yang berubah, begitu pula berkembangnya kekuatan
manusia yang mengubah lingkungan. Dengan merenungkan munculnya masalah-masalah
pembangunan yang mengabaikan prinsip-prinsip ekologi yang mendapatkan
keuntungan jangka pendek guna memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri yang
semakin hari semakin banyak, telah menyebabkan peranan ekologi semakin
menonjol.
B. Rumusan Masalah
1. Apa
yang dimaksud dengan Ekologi?
2. Apa
saja Prinsip-Prinsip Utama Ekoligi dan Jelaskan?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk
Mengetahui arti dari Ekologi.
2. Untuk
Mengetahui Prinsip-Prinsip Utama Ekologi.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Ekologi
Istilah
ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Enerst Haeckel, seorang ahli biologi
bangsa Jerman. Ekologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Oikos yang berarti rumah dan Logos
yang berarti ilmu/telaah. Oleh karena itu, ekologi berarti ilmu tentang rumah
(tempat tinggal) makhluk hidup.
Ekologi
adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan
lingkungan tempat tinggalnya (darat, air, udara). Secara luas/inti ekologi
dapat diartikan sebagai ilmu yang membahas tentang hubungan timbal balik antara
manusia dengan lingkungan.
Odum
(1993) menyatakan bahwa ekologi adalah suatu studi tentang struktur dan fungsi
ekosistem atau alam dan manusia sebagai bagiannya. Struktur ekosistem
menunjukan suatu keadaan dari sistem ekologi pada waktu dan tempat tertentu
termasuk keadaan densitas organisme, biomassa, penyebaran materi (unsur hara),
energi, serta faktor-faktor fisik dan kimia lainyayang menciptakan keadaan
sistem tersebut.
Fungsi
ekosistem (alam) menunjukan hubungan sebab akibat yang terjadi secara
keseluruhan antar komponen dalam sistem. Pembahasan ekologi tidak lepas dari
pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunya, yaitu faktor abiotik
dan biotik.
B. Prinsip-Prinsip Utama Ekologi
1.
Interaksi
Interaksi yaitu suatu hal saling
melakukan aksi, berhubungan, mem-pengaruhi; antarhubungan. Interaksi adalah
suatu jenis tindakan yang terjadi ketika dua atau lebih objek mempengaruhi atau
memiliki efek satu sama lain.
Berbicara
soal ekosistem, pasti tak akan pernah lepas dari pola interaksi yang dibangun
oleh komponen-komponen yang ada di dalamnya. Komponen tersebut, baik itu
abiotik dan biotik, saling terkait satu sama lainnya. Masing-masing komponen
tak bisa berdiri secara sendiri-sendiri sehingga pada akhirnya membentuk sebuah
kesatuan harmoni. Interaksi dalam ekosistem ini pada akhirnya akan melibatkan
beberapa pola yakni interaksi antar-individu atau antar-organisme, interaksi
antar-populasi serta interaksi antar-komunitas. Interaksi yang seimbang dan
selaras akan berujung pada keseimbangan ekosistem yang menghasilkan harmoni.
a.
Interaksi
Antar-organisme atau Antar-individu
Memahami interaksi dalam ekosistem harus
dimulai dari pengamatan terhadap interaksi antara individu yang satu dengan
individu lainnya atau organisme yang satu dengan organisme lainnya. Interaksi
ini adalah suatu hal yang mutlak sebab suatu individu tak akan pernah lepas
dari individu lainnya. Interaksi antar-individu tersebut bisa dengan mudah
dijumpai di dalam sebuah populasi atau suatu komunitas. Untuk memudahkan
pemahaman, maka interaksi antar-individu tersebut dibagi ke dalam beberapa 3 kelompok
yakni:
1) Simbiosis
Simbiosis ini diartikan sebagai suatu
pola hubungan bersama antara dua mahluk hidup yang berbeda jenis. Simbiosis ini
kemudian dibagi lagi ke dalam 3 kelompok, antara lain:
a) Simbiosis
mutualisme. Hubungan ini adalah jenis hubungan dimana dua makhluk hidup yang
berbeda tersebut saling diuntungkan. Contoh simbiosis mutualisme adalah
hubungan di antara jamur dan ganggang, hubungan bunga dan lebah, burung jalak
dan juga badak dan masih banyak lagi lainnya. Hubungan antara bunga dan lebah
misalnya, keduanya mendapatkan keuntungan dimana lebah mendapatkan madu bunga
sekaligus membantu bunga dalam melakukan penyerbukan.
b) Simbiosis
Paratisme. Hubungan ini melibatkan dua mahluk hidup berbeda jenis dimana
tercipta hubungan yang menguntungkan dan merugikan. Mahluk hidup yang dirugikan
disebut inang dan yang mendapat keuntungan disebut dengan parasit. Contoh
hubungan ini adalah kutu di kepala manusia, jamur di kulit, cacing pita di
lambung dan masih banyak lagi lainnya.
c) Simbiosis
Komensialisme. Hubungan yang satu ini melibatkan dua mahluk hidup yang berbeda
dimana yang satu diuntungkan dan yang lainnya tidak dirugikan. Contoh hubungan
ini adalah tanaman anggrek dan pohon tempat ia hidup, ikan hiu dengan ikan
remora dan masih banyak lagi lainnya. Bunga anggrek bisa menempel dan “numpang
hidup” di pohon mangga misalnya, namun si anggrek mampu membuat makanannya
sendiri sehingga ia sama sekali tidak merugikan pohon mangga. Sementara itu
pola hubungan ikan hiu dan remora juga terbilang unik sebab remora akan
mendapatkan sisa makanan yang dikonsumsi oleh hiu dan hal tersebut sama sekali
tidak merugikan si hiu.
2) Antibiosis
Antibiosis ini merupakan pola hubungan
di antara makhluk hidup dimana salah satu individu mengeluarkan suatu zat yang
bisa membahayakan individu lainnya. Contohnya jamur yang mengeluarkan racun
yang menghambat atau bahkan mematikan makhluk hidup lainnya.
3) Predatorisme
Adalah suatu hubungan dimana makhluk
hidup yang satu memangsa makhluk hidup lainnya. Contoh hubungan ini adalah
kucing memangsa tikus atau burung elang yang memangsa ular dan masih banyak
lagi lainnya.
b.
Interaksi
Antar-populasi
Interaksi dalam ekosistem juga
melibatkan hubungan di antara populasi. Pola interaksi ini dibagi ke dalam
beberapa kelompok yakni:
1) Aleopati,
yakni hubungan antara populasi dimana populasi yang satu menghasilkan sejumlah
zat yang bisa menghalangi tumbuh dan kembangnya populasi lainnya. Contoh
hubunga ini adalah pohon walnut yang jarang ditumbuhi tanaman lainnya di
sekitar ia tumbuh sebab ia menghasilkan zat yang bersifat racun atau toksik.
Pola hubunga ini disebut juga dengan nama anabiosa.
2) Kompetisi,
adalah pola hubungan di antara populasi dimana keduanya memiliki kepentingan
yang sama sehingga berujung pada hubungan kompetisi untuk mendapatkan hal yang
dituju tersebut. Contoh pola hubungan ini adalah binatang domba, zebra, sapi,
kuda juga rusa yang hidup di ekosistem dan saling bersaing mendapatkan rumput
sebagai makanan.
c.
Interaksi
Antar-Komunitas
Secara sederhana, komunitas diartikan
sebagai kumpulan populasi yang berbeda di satu tempat yang sama dan saling
menjalin interaksi. Misalnya saja hubungan populasi sawah dengan populasi
sungai. Di dalam sungai terdapat banyak organisme membentuk populasi, kemudian
sistem pangairan dari sungai ke sawah akan mempertemukan antara komunitas sawah
dengan komunitas sungai dan akan terjadi peredaran nutrient dari air sungai ke
sawah.
Interaksi dalam ekosistem yang
melibatkan komunitas sangat kompleks sebab tak hanya melibatkan bermcam-macam
organisme tetapi juga melibatkan aliran makanan juga energi. Interaksi antara
komunitas ini bisa diamati dengan jelas misalnya pada daur ulang karbon yang
melibatkan dua jenis ekosistem yang berbeda misalnya antara ekosistem laut dan
juga darat.
2.
Saling
Ketergantungan
Saling ketergantungan adalah suatu
kesatuan yang saling berpengaruh antara semua faktor biotik dengan faktor
abiotiknya. Hubungan saling ketergantungan tersebut lazim disebut dengan ekosistem.
Di dalam ekosistem terjadi saling
ketergantungan antar komponen, sehingga apabila salah satu komponen mengalami
gangguan maka mempengaruhi komponen lainnya.
a.
Hubungan
Antara Komponen Biotik dan Komponen Abiotik
Di antara produsen, konsumen dan
pengurai adalah saling ketergantungan. Tidak ada makhluk hidup yang hidup tanpa
makhluk lainnya. Setiap makhluk hidup memerlukan makhluk hidup lainnya untuk
saling mendukung kehidupan baik secara langsung maupun tak langsung. Hubungan
saling ketergantungan antar produsen, konsumen dan pengurai. Terjadi melalui
peristiwa makan dan memakan melalui peristiwa sebagai berikut:
1) Rantai
makanan
Merupakan peristiwa makan dan dimakan
dalam suatu ekosistem dengan urutan tertentu. Keterangan :
a) Tumbuhan
menggunakan sinar matahari untuk menghasilkan makanan dalam bentuk gula, dan
disimpan dalam dalam biji, batang, dan bagian lainnya
b) Tikus
makan tumbuhan. Tubuh tikus mengubah sejumlah makanan menjadi energi untuk lri,
makan, dan bereproduksi
c) Ular
makan tikus. Tikus merupakan sumber energi untuk ular agar tetap hidup.
d) Burung
Elang makan ular. Tubuh elang menggunakan energy yang tersedia dari ular untuk
melangsungkan proses kehidupan.
2) Jaring-
Jaring Makanan
Jaring makanan adalah gabungan dari
rantairantai makanan yang tumpang tindih dalam ekosistem. Perpindahan energi
terjadi antara organisme tertentu, sesuai dengan tempat hidupnya.
Konsumen dengan beberapa macam makanan,
memiliki kesempatan hidup yang lebih baik dibandingkan dengan konsumen yang
sumber makanannya terbatas. Bila terjadi sesuatu yang memusnahkan salah satu
jenis persediaan makanan, konsumen dapat memilih makanan lain dari rantai
makanannya dalam jaring makanan.
3) Piramida
Makanan
Pada rantai makanan telah kita ketahui
bahwa tingkat tropik yang terdiri atas produsen, konsumen tingkat I, konsumen
tingkat II, dan seterusnya. Produsen yang bersifat autotrof selalu menempati
tingkatan tropik utama, herbivora menempati tingkat tropik kedua, karnivora
menduduki tingkat tropik ketiga, dan seterusnya. Setiap perpindahan energi dari
satu tingkat tropik ke tingkat tropik berikutnya akan terjadi pelepasan
sebagian energi berupa panas sehingga jumlah energi pada rantai makanan untuk
tingkat tropik yang semakin tinggi, jumlahnya semakin sedikit. Maka
terbentuklah piramida ekologi/piramida makanan.
Salah satu jenis piramida ekologi adalah
piramida jumlah yang dilukiskan dengan jumlah individu. Piramida jumlah pada
suatu ekosistem menunjukkan bahwa produsen mempunyai jumlah paling besar dan
konsumen tingkat II jumlah lebih sedikit dan jumlah paling sedikit terdapat
pada konsumen tingkat terakhir.Sehingga piramida energy merupakan gambaran
perbandingan antara produsen, konsumen I, konsumen II, dan seterusnya. Dalam
piramida ini semakin ke puncak biomassanya semakin kecil.
4) Arus
Energi
Setiap kegiatan memerlukan energi. Sumber
energi untuk organisme adalah energy kimia yang terdapat di dalam makanan.
Makhluk hidup tidak mampu menciptakan
energi, melainkan hanya memindahkan dan memanfaatkannya untuk
beraktivitas. Sehingga arus energi merupakan perpindahan energi dari
tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Yaitu dari sinar matahari lalu
produsen, ke konsumen tingkat I, ke konsumen tingkat II sampai pengurai.
Sedangkan mineral membentuk siklus. Energi yang dilepas sangat kecil karena
setiap organisme membutuhkan energi dalam memenuhi kebutuhannya.
Keberadaan komponen abiotik dalam
ekosistem sangat mempengaruhi komponen biotik. Misal: tumbuhan dapat hidup baik
apabila lingkungan memberikan unsur-unsur yang dibutuhkan tumbuhan tersebut,
contohnya air, udara, cahaya, dan garam–garam mineral. Begitu juga sebaliknya
komponen biotik sangat mempengaruhi komponen abiotik yaitu tumbuhan yang ada di
hutan sangat mempengaruhi keberadaan air, sehingga mata air dapat bertahan,
tanah menjadi subur. Tetapi apabila tidak ada tumbuhan, air tidak dapat
tertahan sehingga dapat menyebabkan tanah longsor dan menjadi tandus. Komponen
abiotik yang tidak tergantung dengan biotik antara lain: gaya grafitasi,
matahari, tekanan udara.
5) Siklus
energy
Merupakan perpindahan zat dari
tempat satu ke tempat yang lainnya. Akhirnya akan kembali ke tempat zat itu
berasal. Keseimbangan ekosistem dapat terjadi bila ada hubangan timbal balik di
antara komponen–komponen ekositem.
Semula produsen, herbivora dan karnivora
berada pada tempat tertentu. Tumbuhan sebagai produsen yang jumlahnya paling
banyak.
Apabila
ada hal-hal yang mengubah lingkungan maka organisme tersebut tidak akan
mengalami perubahan, tetapi jika jumlah organisme tidak terkendalikan akan membahayakan
organisme lainnya.
3.
Keanekaragaman
Keanekaragaman adalah keanekaragaman
yang ditemukan di antara makhluk hidup yang berbeda jenis. Di dalam suatu
daerah terdapat bermacam jenis makhluk hidup baik tumbuhan, hewan, dan
mikroorganisme.
a.
Keanekaragaman
Jenis
Makhluk hidup dapat dibedakan menjadi
dua golongan yaitu dunia tumbuhan (flora) dan dunia hewan (fauna) yang
masing-masing memiliki ciri yang spesifik ditinjau dari keanekaragaman jenis,
meliputi variasi bentuk, jumlah, dan sifat lain yang terlihat pada tingkat yang
berbeda-beda, dengan menggunakan daya kemampuan akal pikiran manusia dalam
mengamati dan memahami keanekaragaman jenis ditinjau dari variasi bentuk,
penampilan, jumlah dan sifat lainnya, dapat kita amati langsung objek makhluk
hidup yang ada disekeliling kita. Contohnya kita kenal jenis tumbuhan kelapa,
siwalan/lontar, aren, pinang, yang semua jenis tumbuhan ini jika kita amati
terdapat persamaan ciri-cirinya, dan ada pula perbedaan ciri-cirinya.
Demikian pula jika kita amati dari jenis
tumbuhan buah mangga terdapat varietasnya, antara lain: jenis mangga harumanis,
mangga si manalagi, mangga cengir, dan lainnya, menunjukkan perbedaan rasa,
warna, bentuk, harum, yang berbeda-beda. Hal ini dapat kita perhatikan firman
Allah SWT dalam Al Qur’an surat Faathir (35:27,28)
‘Tidaklah kamu melihat bahwasannya Allah
menurunkan hujan dari langit lalu kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan
yang beranekaragam jenisnya.
Dan diantara gunung-gunung ituada
garis-garis patah dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang
hitam pekat.” (QS. Al Faathir : 27)
“Dan demikian (pula) diantara manusia,
binatang-binatang melata, dan bintang-binatang ternak ada yang bermacam-macam
warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara
hamba-hambaNya hanyalah ulama (orang-orang yang mengetahui kebesaran dan
kekuasaan Allah). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS. Al
Faathir : 28)
b.
Keanekaragaman
Gen (plasma nutfah)
Gen itu terdapat dalam kromosom yang
tersimpan dalam inti sel setiap organisme, fungsinya adalah merupakan faktor
kebanyakan yang mengatur bagaimana sifat yang nampak dan tidak nampak
diwariskan kepada keturunannya. Seperti tumbuhan mangga memiliki sifat rasa
manis atau asam, buah besar atau kecil, harum atau tidak harum, dan sifat-sifat
lainnya yang tidak nampak, semuanya itu pengendaliannya diatur oleh gen.
Keanekaragaman gen inilah yang
menentukan keanekaragaman individu sejenis maupun bagi individu yang lain jenis
sehingga dijadikan dasar untuk lahirnya keanekaragaman jenis makhluk hidup.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap
keanekaragaman genetik adalah ditentukan oleh keadaan lingkungan dimana makhluk
itu berada, kenyataan ini dapat kita amati dan sering kita jumpai dalam
kehidupan sehari-hari misalnya ada dua individu yang mempunyai susunan faktor
genetik sama, tetapi menunjukan sifat atau ciri yang berbeda jika hidup pada
lingkungan yang sama kemungkinannya muncul kemiripan sifat atau ciri dari kedua
individu itu, walaupun umumnya sifat dan cirinya berbeda-beda.
Pengaruh keadaan lingkungan terhadap
sifat atau ciri setiap makhluk hidup adalah merupakan sunnatullah yang perlu
kita tafakuri sebagaimana firmanNya dalam Al Qur’an surat Ar Ra’d (13:4).
“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian
yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang
bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami
melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagaian yang lain tentang
rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran
Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Ra’d : 4)
c.
Keanekaragaman
Ekosistem
Sebuah ekosistem terdiri atas
komponen-komponen biotik (makhluk hidup, tumbuhan, hewan, manusia dan
mikroorganisme lainnya) dan komponen abiotik (seperti air, tanah, jenis, udara
dan kesamaan, kadar garam, dll).
Kedua komponen biotik dan abiotik ini
satu dengan lainnya saling ketergantungan sehingga perbedaan komponen biotik
dan abiotik yang berbeda, membentuk lingkungan (ekosistem) yang berbeda pula.
Munculnya keanekaragaman ekosistem disebabkan adanya variasi keberadaan komponen
biotik dan abiotik dalam ekosistem itu sendiri. Misalnya tumbuhan jenis kelapa
banyak terdapat di ekosistem pantai, pohon Lontar banyak terdapat di ekosistem
dawan, pohon Aren terdapat di ekosistem hutan basah.
Berkesinambungan dengan firman Allah di
atas, maka untuk meyakinkan tentang pengaruh lingkungan terhadap keanekaragaman
gen dan jenis makhluk hidup, maka Allah berfirman dalam Al Qur’an surat an Nahl
(16:13).
“Dan (Dia juga mengendalikan) apa yang
Dia ciptakan untukmu di bumi ini dengan berbagai jenis dan macam warnanya.
Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah)
bagi kaum yang mengambil pelajaran.” (QS. An Nahl : 13)
Proses interaksi antar komponen dalam
ekosistem meliputi proses pengambilan dan perpindahan energi (energitika), daur
materi dan produktivitas, yang semua ini secara kualitas dan kuantitasnya
sangat dipengaruhi oleh tingkat keberadaan komponen biotik dan abiotik,
sehingga melahirkan keanekaragaman ekosistem.
4.
Keharmonisan
Secara terminologi Keharmonisan berasal
dari kata harmonis yang berti serasi, selaras. Titik berat dari Keharmonisan
adalah kedaan selaras atau serasi, keharmonisan bertujuan untuk mencapai
keselarasan dan keserasian, dalam kehidupan (Lingkungan Hidup).
Di alam ada harmoni di antara unsur alam
tuhan menciptakan alam semesta dengan segala keteraturan yang saling menunjang
dan menghidupi. Misalnya rantai makanan, di mana udara, flora, fauna dan
manusia terlibat pada peranya masing-masing. Rantai makanan diawali dengan
tumbuh-tumbuhan yang menggunakan zat hara yang ada di tanah dan panas sinar
matahari untuk membentuk energi, yaitu karbohidrat.
Tumbuhan
selanjutnya akan dimakan oleh hewan herbivora yang yang selanjutnya akan di
maka pula oleh hewan karnivora. Manusia sebagai konsumen terakhir pada rantai
makan akan mengkonsumsi hewan karnivora tersebut. Dilanjutkan dengan di
hasilkannya oleh kotoran manusia. Kotoran tersebut nantinya akan di urai oleh
mikroorganisme dalam tanah menjadi humus, yang notabene berfungsi penting bagi
pertumbuhan tumbuhan. Maka siklus tumbuhannya tumbuhan. Dari uraian di atas
dalam dilihat bahwa di antara unsur alam tedapat harmoni yang salingmenunjang
dan menghidupi yang sifatnya bertimbal balik.
5.
Kemampuan
Berkelanjutan
Kemampuan adalah kapasitas seorang
individu untuk melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjaan agar tercapai
dengan baik.
Beberapa
upaya yang dapat dilakuklan masyarakat berkaitan dengan Kemampuan berkelanjutan
antara lain:
a.
Pelestarian
tanah (tanah datar, lahan miring/perbukitan)
Terjadinya bencana tanah longsor dan
banjir menunjukkan peristiwa yang berkaitan dengan masalah tanah. Banjir telah
menyebabkan pengikisan lapisan tanah oleh aliran air yang disebut erosi yang
berdampak pada hilangnya kesuburan tanah serta terkikisnya lapisan tanah dari
permukaan bumi. Tanah longsor disebabkan karena tak ada lagi unsur yang menahan
lapisan tanah pada tempatnya sehingga menimbulkan kerusakan. Jika hal tersebut
dibiarkan terus berlangsung, maka bukan mustahil jika lingkungan berubah
menjadi padang tandus.
Upaya pelestarian tanah dapat dilakukan
dengan cara menggalakkan kegiatan menanam pohon atau penghijauan kembali
(reboisasi) terhadap tanah yang semula gundul. Untuk daerah perbukitan atau
pegunungan yang posisi tanahnya miring perlu dibangun terasering atau
sengkedan, sehingga mampu menghambat laju aliran air hujan.
b.
Pelestarian
udara
Udara merupakan unsur vital bagi
kehidupan, karena setiap organisme bernapas memerlukan udara. Kalian mengetahui
bahwa dalam udara terkandung beranekaragam gas, salah satunya oksigen.
Udara yang kotor karena debu atau pun
asap sisa pembakaran menyebabkan kadar oksigen berkurang. Keadaan ini sangat
membahayakan bagi kelangsungan hidup setiap organisme.
Maka perlu diupayakan kiat-kiat untuk
menjaga kesegaran udara lingkungan agar tetap bersih, segar, dan sehat. Upaya
yang dapat dilakukan untuk menjaga agar udara tetap bersih dan sehat antara
lain:
1) Menggalakkan
penanaman pohon atau pun tanaman hias di sekitar kita, Tanaman dapat menyerap
gas-gas yang membahayakan bagi manusia. Tanaman mampu memproduksi oksigen
melalui proses fotosintesis. Rusaknya hutan menyebabkan jutaan tanaman lenyap
sehingga produksi oksigen bagi atmosfer jauh berkurang, di samping itu tumbuhan
juga mengeluarkan uap air, sehingga kelembapan udara akan tetap terjaga.
2) Mengupayakan
pengurangan emisi atau pembuangan gas sisa pembakaran, baik pembakaran hutan
maupun pembakaran mesin Asap yang keluar dari knalpot kendaraan dan cerobong
asap merupakan penyumbang terbesar kotornya udara di perkotaan dan kawasan
industri. Salah satu upaya pengurangan emisi gas berbahaya ke udara adalah
dengan menggunakan bahan industri yang aman bagi lingkungan, serta pemasangan
filter pada cerobong asap pabrik.
3) Mengurangi
atau bahkan menghindari pemakaian gas kimia yang dapat merusak lapisan ozon di
atmosfer Gas freon yang digunakan untuk pendingin pada AC maupun kulkas serta
dipergunakan di berbagai produk kosmetika, adalah gas yang dapat bersenyawa
dengan gas ozon, sehingga mengakibatkan lapisan ozon menyusut. Lapisan ozon
adalah lapisan di atmosfer yang berperan sebagai filter bagi bumi, karena mampu
memantulkan kembali sinar ultraviolet ke luar angkasa yang dipancarkan oleh
matahari. Sinar ultraviolet yang berlebihan akan merusakkan jaringan kulit dan
menyebabkan meningkatnya suhu udara. Pemanasan global terjadi di antaranya
karena makin menipisnya lapisan ozon di atmosfer.
c.
Pelestarian
hutan
Eksploitasi hutan yang terus menerus
berlangsung sejak dahulu hingga kini tanpa diimbangi dengan penanaman kembali,
menyebabkan kawasan hutan menjadi rusak. Pembalakan liar yang dilakukan manusia
merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kerusakan hutan. Padahal hutan
merupakan penopang kelestarian kehidupan di bumi, sebab hutan bukan hanya
menyediakan bahan pangan maupun bahan produksi, melainkan juga penghasil
oksigen, penahan lapisan tanah, dan menyimpan cadangan air. Upaya yang dapat
dilakukan untuk melestarikan hutan:
1) Reboisasi
atau penanaman kembali hutan yang gundul.
2) Melarang
pembabatan hutan secara sewenang-wenang.
3) Menerapkan
sistem tebang pilih dalam menebang pohon.
4) Menerapkan
sistem tebang–tanam dalam kegiatan penebangan hutan.
5) Menerapkan
sanksi yang berat bagi mereka yang melanggar ketentuan mengenai pengelolaan
hutan.
d.
Pelestarian
laut dan pantai
Seperti halnya hutan, laut juga sebagai
sumber daya alam potensial. Kerusakan biota laut dan pantai banyak disebabkan
karena ulah manusia. Pengambilan pasir pantai, karang di laut, pengrusakan
hutan bakau, merupakan kegatan-kegiatan manusia yang mengancam kelestarian laut
dan pantai. Terjadinya abrasi yang mengancam kelestarian pantai disebabkan
telah hilangnya hutan bakau di sekitar pantai yang merupakan pelindung alami
terhadap gempuran ombak. Adapun upaya untuk melestarikan laut dan pantai dapat
dilakukan dengan cara:
1) Melakukan
reklamasi pantai dengan menanam kembali tanaman bakau di areal sekitar pantai.
2) Melarang
pengambilan batu karang yang ada di sekitar pantai maupun di dasar laut, karena
karang merupakan habitat ikan dan tanaman laut.
3) Melarang
pemakaian bahan peledak dan bahan kimia lainnya dalam mencari ikan.
4) Melarang
pemakaian pukat harimau untuk mencari ikan.
e.
Pelestarian
flora dan fauna
Kehidupan di bumi merupakan sistem
ketergantungan antara manusia, hewan, tumbuhan, dan alam sekitarnya.
Terputusnya salah satu mata rantai dari sistem tersebut akan mengakibatkan
gangguan dalam kehidupan.
Oleh karena itu, kelestarian flora dan
fauna merupakan hal yang mutlak diperhatikan demi kelangsungan hidup manusia.
Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian flora dan fauna di
antaranya adalah:
1) Mendirikan
cagar alam dan suaka margasatwa.
2) Melarang
kegiatan perburuan liar.
3) Menggalakkan
kegiatan penghijauan.
BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Ekologi
adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan
lingkungan tempat tinggalnya (darat, air, udara). Secara luas/inti ekologi
dapat diartikan sebagai ilmu yang membahas tentang hubungan timbal balik antara
manusia dengan lingkungan.
Struktur
ekosistem menunjukan suatu keadaan dari sistem ekologi pada waktu dan tempat
tertentu termasuk keadaan densitas organisme, biomassa, penyebaran materi
(unsur hara), energi, serta faktor-faktor fisik dan kimia lainyayang
menciptakan keadaan sistem tersebut. Pembahasan ekologi tidak lepas dari
pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunya, yaitu faktor abiotik
dan biotik. Prinsip-Prinsip Utama Ekologi terbagi lima, yaitu:
1. Interaksi
2. Saling
Ketergantungan
3. Keanekaragaman
4. Keharmonisan
5. Kemampuan
Berkelanjutan
DAFTAR PUSTAKA
Tidak ada komentar:
Posting Komentar