Jumat, 15 Mei 2015

Mata Kuliah: Pembelajaran Berbasis Lingkungan Hidup - Prinsip-prinsip Ekologi



KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penyusunan makalah dengan judul Prinsip-Prinsip Utama Ekologi dapat berjalan tanpa halangan yang berarti, dari awal sampai selesai.
            Penulisan makalah ini berdasarkan literatur yang ada. Penyusun menyadari akan kemampuan yang sangat terbatas sehingga dalam penyusunan makalah ini banyak kekurangannya. Untuk itu penyusun mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun untuk lebih sempurnanya makalah ini.
            Dalam kesempatan ini penyusun mengucapkan terimakasih atas bimbingan, bantuan serta saran dari berbagi pihak.
            Akhir kata penyusun mengucapkan banyak terima kasih dan semoga tugas ini dapat berguna dan bermanfaat bagi semua pihak.





                                                                                    Cirebon, 08 Maret 2015
                       

                                                                                                    Penyusun





DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................... i
DAFTAR ISI.......................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang................................................................................................ 1
B.  Rumusan Masalah........................................................................................... 1
C.  Tujuan Penelitian............................................................................................. 1
BAB II  PEMBAHASAN
A.  Pengertian Ekologi............................................................................................ 2
B.  Prinsip-Prinsip Ekologi
1.    Interaksi.......................................................................................................... 2
2.    Saling Ketergantungan................................................................................... 6
3.    Keanekaragaman............................................................................................ 9
4.    Keharmonisan.............................................................................................. 12
5.    Kemampuan Berkelanjutan.......................................................................... 13
BAB III PENUTUP
A.     Kesimpulan.................................................................................................. 17
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 18








BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Manusia pada hakikatnya adalah murid-murid alam atau lingkungan, karena alam dan lingkungan mengajari mereka banyak hal. Kehidupan sebagai dinamika yang mengandung pergeseran dan perubahan secara terus-menerus. Oleh karena itu setiap manusia harus mampu menyesuaikan dirinya dengan alam dan lingkungannya, serta sesama makhluk hidup yang merupakan bagian dari alam. Dalam hal ini alam bagi manusia adalah segala-galanya, bukan hanya sebagai tempat lahir, hidup, berkembang, maupun mati. Akan tetapi juga mempunyai makna filosofis tersendiri. Alam adalah guru bagi makhluk yang hidup di dalamnya. Dia dapat mempelajari apa saja yang ada di sekelilingnya. Oleh karena itu lingkungan merupakan laboratorium alam yang sangat baik dan lengkap, namun belum banyak yang menyadari dan memanfaatkannya.
     Semakin hari, semakin dirasakan oleh manusia untuk harus mengenal lingkungannya, apalagi perkembangan IPTEK yang begitu pesat, pola penduduk dunia yang berubah, begitu pula berkembangnya kekuatan manusia yang mengubah lingkungan. Dengan merenungkan munculnya masalah-masalah pembangunan yang mengabaikan prinsip-prinsip ekologi yang mendapatkan keuntungan jangka pendek guna memenuhi kebutuhan manusia itu sendiri yang semakin hari semakin banyak, telah menyebabkan peranan ekologi semakin menonjol.
B.  Rumusan Masalah
1.    Apa yang dimaksud dengan Ekologi?
2.    Apa saja Prinsip-Prinsip Utama Ekoligi dan Jelaskan?
C.  Tujuan Masalah
1.    Untuk Mengetahui arti dari Ekologi.
2.    Untuk Mengetahui Prinsip-Prinsip Utama Ekologi.
BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Ekologi
Istilah ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Enerst Haeckel, seorang ahli biologi bangsa Jerman. Ekologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Oikos yang berarti rumah dan Logos yang berarti ilmu/telaah. Oleh karena itu, ekologi berarti ilmu tentang rumah (tempat tinggal) makhluk hidup.
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungan tempat tinggalnya (darat, air, udara). Secara luas/inti ekologi dapat diartikan sebagai ilmu yang membahas tentang hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan.
Odum (1993) menyatakan bahwa ekologi adalah suatu studi tentang struktur dan fungsi ekosistem atau alam dan manusia sebagai bagiannya. Struktur ekosistem menunjukan suatu keadaan dari sistem ekologi pada waktu dan tempat tertentu termasuk keadaan densitas organisme, biomassa, penyebaran materi (unsur hara), energi, serta faktor-faktor fisik dan kimia lainyayang menciptakan keadaan sistem tersebut.
Fungsi ekosistem (alam) menunjukan hubungan sebab akibat yang terjadi secara keseluruhan antar komponen dalam sistem. Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunya, yaitu faktor abiotik dan biotik.

B.  Prinsip-Prinsip Utama Ekologi
1.    Interaksi
Interaksi yaitu suatu hal saling melakukan aksi, berhubungan, mem-pengaruhi; antarhubungan. Interaksi adalah suatu jenis tindakan yang terjadi ketika dua atau lebih objek mempengaruhi atau memiliki efek satu sama lain.
Berbicara soal ekosistem, pasti tak akan pernah lepas dari pola interaksi yang dibangun oleh komponen-komponen yang ada di dalamnya. Komponen tersebut, baik itu abiotik dan biotik, saling terkait satu sama lainnya. Masing-masing komponen tak bisa berdiri secara sendiri-sendiri sehingga pada akhirnya membentuk sebuah kesatuan harmoni. Interaksi dalam ekosistem ini pada akhirnya akan melibatkan beberapa pola yakni interaksi antar-individu atau antar-organisme, interaksi antar-populasi serta interaksi antar-komunitas. Interaksi yang seimbang dan selaras akan berujung pada keseimbangan ekosistem yang menghasilkan harmoni.
a.    Interaksi Antar-organisme atau Antar-individu
Memahami interaksi dalam ekosistem harus dimulai dari pengamatan terhadap interaksi antara individu yang satu dengan individu lainnya atau organisme yang satu dengan organisme lainnya. Interaksi ini adalah suatu hal yang mutlak sebab suatu individu tak akan pernah lepas dari individu lainnya. Interaksi antar-individu tersebut bisa dengan mudah dijumpai di dalam sebuah populasi atau suatu komunitas. Untuk memudahkan pemahaman, maka interaksi antar-individu tersebut dibagi ke dalam beberapa 3 kelompok yakni:
1)    Simbiosis
Simbiosis ini diartikan sebagai suatu pola hubungan bersama antara dua mahluk hidup yang berbeda jenis. Simbiosis ini kemudian dibagi lagi ke dalam 3 kelompok, antara lain:
a)    Simbiosis mutualisme. Hubungan ini adalah jenis hubungan dimana dua makhluk hidup yang berbeda tersebut saling diuntungkan. Contoh simbiosis mutualisme adalah hubungan di antara jamur dan ganggang, hubungan bunga dan lebah, burung jalak dan juga badak dan masih banyak lagi lainnya. Hubungan antara bunga dan lebah misalnya, keduanya mendapatkan keuntungan dimana lebah mendapatkan madu bunga sekaligus membantu bunga dalam melakukan penyerbukan.
b)   Simbiosis Paratisme. Hubungan ini melibatkan dua mahluk hidup berbeda jenis dimana tercipta hubungan yang menguntungkan dan merugikan. Mahluk hidup yang dirugikan disebut inang dan yang mendapat keuntungan disebut dengan parasit. Contoh hubungan ini adalah kutu di kepala manusia, jamur di kulit, cacing pita di lambung dan masih banyak lagi lainnya.
c)    Simbiosis Komensialisme. Hubungan yang satu ini melibatkan dua mahluk hidup yang berbeda dimana yang satu diuntungkan dan yang lainnya tidak dirugikan. Contoh hubungan ini adalah tanaman anggrek dan pohon tempat ia hidup, ikan hiu dengan ikan remora dan masih banyak lagi lainnya. Bunga anggrek bisa menempel dan “numpang hidup” di pohon mangga misalnya, namun si anggrek mampu membuat makanannya sendiri sehingga ia sama sekali tidak merugikan pohon mangga. Sementara itu pola hubungan ikan hiu dan remora juga terbilang unik sebab remora akan mendapatkan sisa makanan yang dikonsumsi oleh hiu dan hal tersebut sama sekali tidak merugikan si hiu.

2)    Antibiosis
Antibiosis ini merupakan pola hubungan di antara makhluk hidup dimana salah satu individu mengeluarkan suatu zat yang bisa membahayakan individu lainnya. Contohnya jamur yang mengeluarkan racun yang menghambat atau bahkan mematikan makhluk hidup lainnya.

3)      Predatorisme
Adalah suatu hubungan dimana makhluk hidup yang satu memangsa makhluk hidup lainnya. Contoh hubungan ini adalah kucing memangsa tikus atau burung elang yang memangsa ular dan masih banyak lagi lainnya.

b.   Interaksi Antar-populasi
Interaksi dalam ekosistem juga melibatkan hubungan di antara populasi. Pola interaksi ini dibagi ke dalam beberapa kelompok yakni:
1)   Aleopati, yakni hubungan antara populasi dimana populasi yang satu menghasilkan sejumlah zat yang bisa menghalangi tumbuh dan kembangnya populasi lainnya. Contoh hubunga ini adalah pohon walnut yang jarang ditumbuhi tanaman lainnya di sekitar ia tumbuh sebab ia menghasilkan zat yang bersifat racun atau toksik. Pola hubunga ini disebut juga dengan nama anabiosa.
2)    Kompetisi, adalah pola hubungan di antara populasi dimana keduanya memiliki kepentingan yang sama sehingga berujung pada hubungan kompetisi untuk mendapatkan hal yang dituju tersebut. Contoh pola hubungan ini adalah binatang domba, zebra, sapi, kuda juga rusa yang hidup di ekosistem dan saling bersaing mendapatkan rumput sebagai makanan.

c.    Interaksi Antar-Komunitas
Secara sederhana, komunitas diartikan sebagai kumpulan populasi yang berbeda di satu tempat yang sama dan saling menjalin interaksi. Misalnya saja hubungan populasi sawah dengan populasi sungai. Di dalam sungai terdapat banyak organisme membentuk populasi, kemudian sistem pangairan dari sungai ke sawah akan mempertemukan antara komunitas sawah dengan komunitas sungai dan akan terjadi peredaran nutrient dari air sungai ke sawah.
Interaksi dalam ekosistem yang melibatkan komunitas sangat kompleks sebab tak hanya melibatkan bermcam-macam organisme tetapi juga melibatkan aliran makanan juga energi. Interaksi antara komunitas ini bisa diamati dengan jelas misalnya pada daur ulang karbon yang melibatkan dua jenis ekosistem yang berbeda misalnya antara ekosistem laut dan juga darat.
2.    Saling Ketergantungan
Saling ketergantungan adalah suatu kesatuan yang saling berpengaruh antara semua faktor biotik dengan faktor abiotiknya. Hubungan saling ketergantungan tersebut lazim disebut dengan ekosistem.
Di dalam ekosistem terjadi saling ketergantungan antar komponen, sehingga apabila salah satu komponen mengalami gangguan maka mempengaruhi komponen lainnya.
a.    Hubungan Antara Komponen Biotik dan Komponen Abiotik
Di antara produsen, konsumen dan pengurai adalah saling ketergantungan. Tidak ada makhluk hidup yang hidup tanpa makhluk lainnya. Setiap makhluk hidup memerlukan makhluk hidup lainnya untuk saling mendukung kehidupan baik secara langsung maupun tak langsung. Hubungan saling ketergantungan antar produsen, konsumen dan pengurai. Terjadi melalui peristiwa makan dan memakan melalui peristiwa sebagai berikut:
1)      Rantai makanan
Merupakan peristiwa makan dan dimakan dalam suatu ekosistem dengan urutan tertentu. Keterangan :
a)      Tumbuhan menggunakan sinar matahari untuk menghasilkan makanan dalam bentuk gula, dan disimpan dalam dalam biji, batang, dan bagian lainnya
b)      Tikus makan tumbuhan. Tubuh tikus mengubah sejumlah makanan menjadi energi untuk lri, makan, dan bereproduksi
c)      Ular makan tikus. Tikus merupakan sumber energi untuk ular agar tetap hidup.
d)     Burung Elang makan ular. Tubuh elang menggunakan energy yang tersedia dari ular untuk melangsungkan proses kehidupan.

2)      Jaring- Jaring Makanan
Jaring makanan adalah gabungan dari rantairantai makanan yang tumpang tindih dalam ekosistem. Perpindahan energi terjadi antara organisme tertentu, sesuai dengan tempat hidupnya.
Konsumen dengan beberapa macam makanan, memiliki kesempatan hidup yang lebih baik dibandingkan dengan konsumen yang sumber makanannya terbatas. Bila terjadi sesuatu yang memusnahkan salah satu jenis persediaan makanan, konsumen dapat memilih makanan lain dari rantai makanannya dalam jaring makanan.

3)   Piramida Makanan
Pada rantai makanan telah kita ketahui bahwa tingkat tropik yang terdiri atas produsen, konsumen tingkat I, konsumen tingkat II, dan seterusnya. Produsen yang bersifat autotrof selalu menempati tingkatan tropik utama, herbivora menempati tingkat tropik kedua, karnivora menduduki tingkat tropik ketiga, dan seterusnya. Setiap perpindahan energi dari satu tingkat tropik ke tingkat tropik berikutnya akan terjadi pelepasan sebagian energi berupa panas sehingga jumlah energi pada rantai makanan untuk tingkat tropik yang semakin tinggi, jumlahnya semakin sedikit. Maka terbentuklah piramida ekologi/piramida makanan.
Salah satu jenis piramida ekologi adalah piramida jumlah yang dilukiskan dengan jumlah individu. Piramida jumlah pada suatu ekosistem menunjukkan bahwa produsen mempunyai jumlah paling besar dan konsumen tingkat II jumlah lebih sedikit dan jumlah paling sedikit terdapat pada konsumen tingkat terakhir.Sehingga piramida energy merupakan gambaran perbandingan antara produsen, konsumen I, konsumen II, dan seterusnya. Dalam piramida ini semakin ke puncak biomassanya semakin kecil.

4)    Arus Energi
Setiap kegiatan memerlukan energi. Sumber energi untuk organisme adalah energy kimia yang terdapat di dalam makanan.
Makhluk hidup tidak mampu menciptakan energi, melainkan hanya memindahkan dan memanfaatkannya untuk beraktivitas.  Sehingga  arus energi merupakan perpindahan energi dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Yaitu dari sinar matahari lalu produsen, ke konsumen tingkat I, ke konsumen tingkat II sampai pengurai. Sedangkan mineral membentuk siklus. Energi yang dilepas sangat kecil karena setiap organisme membutuhkan energi dalam memenuhi kebutuhannya.
Keberadaan komponen abiotik dalam ekosistem sangat mempengaruhi komponen biotik. Misal: tumbuhan dapat hidup baik apabila lingkungan memberikan unsur-unsur yang dibutuhkan tumbuhan tersebut, contohnya air, udara, cahaya, dan garam–garam mineral. Begitu juga sebaliknya komponen biotik sangat mempengaruhi komponen abiotik yaitu tumbuhan yang ada di hutan sangat mempengaruhi keberadaan air, sehingga mata air dapat bertahan, tanah menjadi subur. Tetapi apabila tidak ada tumbuhan, air tidak dapat tertahan sehingga dapat menyebabkan tanah longsor dan menjadi tandus. Komponen abiotik yang tidak tergantung dengan biotik antara lain: gaya grafitasi, matahari, tekanan udara.

5)   Siklus energy
            Merupakan perpindahan zat dari tempat satu ke tempat yang lainnya. Akhirnya akan kembali ke tempat zat itu berasal. Keseimbangan ekosistem dapat terjadi bila ada hubangan timbal balik di antara komponen–komponen ekositem.
     Semula produsen, herbivora dan karnivora berada pada tempat tertentu. Tumbuhan sebagai produsen yang jumlahnya paling banyak.
Apabila ada hal-hal yang mengubah lingkungan maka organisme tersebut tidak akan mengalami perubahan, tetapi jika jumlah organisme tidak terkendalikan akan membahayakan organisme lainnya.

3.    Keanekaragaman
Keanekaragaman adalah keanekaragaman yang ditemukan di antara makhluk hidup yang berbeda jenis. Di dalam suatu daerah terdapat bermacam jenis makhluk hidup baik tumbuhan, hewan, dan mikroorganisme.
a.    Keanekaragaman Jenis
Makhluk hidup dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu dunia tumbuhan (flora) dan dunia hewan (fauna) yang masing-masing memiliki ciri yang spesifik ditinjau dari keanekaragaman jenis, meliputi variasi bentuk, jumlah, dan sifat lain yang terlihat pada tingkat yang berbeda-beda, dengan menggunakan daya kemampuan akal pikiran manusia dalam mengamati dan memahami keanekaragaman jenis ditinjau dari variasi bentuk, penampilan, jumlah dan sifat lainnya, dapat kita amati langsung objek makhluk hidup yang ada disekeliling kita. Contohnya kita kenal jenis tumbuhan kelapa, siwalan/lontar, aren, pinang, yang semua jenis tumbuhan ini jika kita amati terdapat persamaan ciri-cirinya, dan ada pula perbedaan ciri-cirinya.
Demikian pula jika kita amati dari jenis tumbuhan buah mangga terdapat varietasnya, antara lain: jenis mangga harumanis, mangga si manalagi, mangga cengir, dan lainnya, menunjukkan perbedaan rasa, warna, bentuk, harum, yang berbeda-beda. Hal ini dapat kita perhatikan firman Allah SWT dalam Al Qur’an surat Faathir (35:27,28)
‘Tidaklah kamu melihat bahwasannya Allah menurunkan hujan dari langit lalu kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beranekaragam jenisnya.
Dan diantara gunung-gunung ituada garis-garis patah dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.” (QS. Al Faathir : 27)
“Dan demikian (pula) diantara manusia, binatang-binatang melata, dan bintang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hambaNya hanyalah ulama (orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah). Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (QS. Al Faathir : 28)

b.   Keanekaragaman Gen (plasma nutfah)
Gen itu terdapat dalam kromosom yang tersimpan dalam inti sel setiap organisme, fungsinya adalah merupakan faktor kebanyakan yang mengatur bagaimana sifat yang nampak dan tidak nampak diwariskan kepada keturunannya. Seperti tumbuhan mangga memiliki sifat rasa manis atau asam, buah besar atau kecil, harum atau tidak harum, dan sifat-sifat lainnya yang tidak nampak, semuanya itu pengendaliannya diatur oleh gen.
Keanekaragaman gen inilah yang menentukan keanekaragaman individu sejenis maupun bagi individu yang lain jenis sehingga dijadikan dasar untuk lahirnya keanekaragaman jenis makhluk hidup.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terhadap keanekaragaman genetik adalah ditentukan oleh keadaan lingkungan dimana makhluk itu berada, kenyataan ini dapat kita amati dan sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari misalnya ada dua individu yang mempunyai susunan faktor genetik sama, tetapi menunjukan sifat atau ciri yang berbeda jika hidup pada lingkungan yang sama kemungkinannya muncul kemiripan sifat atau ciri dari kedua individu itu, walaupun umumnya sifat dan cirinya berbeda-beda.
Pengaruh keadaan lingkungan terhadap sifat atau ciri setiap makhluk hidup adalah merupakan sunnatullah yang perlu kita tafakuri sebagaimana firmanNya dalam Al Qur’an surat Ar Ra’d (13:4).
“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon korma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanaman-tanaman itu atas sebagaian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Ra’d : 4)

c.    Keanekaragaman Ekosistem
Sebuah ekosistem terdiri atas komponen-komponen biotik (makhluk hidup, tumbuhan, hewan, manusia dan mikroorganisme lainnya) dan komponen abiotik (seperti air, tanah, jenis, udara dan kesamaan, kadar garam, dll).
Kedua komponen biotik dan abiotik ini satu dengan lainnya saling ketergantungan sehingga perbedaan komponen biotik dan abiotik yang berbeda, membentuk lingkungan (ekosistem) yang berbeda pula. Munculnya keanekaragaman ekosistem disebabkan adanya variasi keberadaan komponen biotik dan abiotik dalam ekosistem itu sendiri. Misalnya tumbuhan jenis kelapa banyak terdapat di ekosistem pantai, pohon Lontar banyak terdapat di ekosistem dawan, pohon Aren terdapat di ekosistem hutan basah.
Berkesinambungan dengan firman Allah di atas, maka untuk meyakinkan tentang pengaruh lingkungan terhadap keanekaragaman gen dan jenis makhluk hidup, maka Allah berfirman dalam Al Qur’an surat an Nahl (16:13).
“Dan (Dia juga mengendalikan) apa yang Dia ciptakan untukmu di bumi ini dengan berbagai jenis dan macam warnanya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.” (QS. An Nahl  : 13)
Proses interaksi antar komponen dalam ekosistem meliputi proses pengambilan dan perpindahan energi (energitika), daur materi dan produktivitas, yang semua ini secara kualitas dan kuantitasnya sangat dipengaruhi oleh tingkat keberadaan komponen biotik dan abiotik, sehingga melahirkan keanekaragaman ekosistem.

4.    Keharmonisan
Secara terminologi Keharmonisan berasal dari kata harmonis yang berti serasi, selaras. Titik berat dari Keharmonisan adalah kedaan selaras atau serasi, keharmonisan bertujuan untuk mencapai keselarasan dan keserasian, dalam kehidupan (Lingkungan Hidup).
Di alam ada harmoni di antara unsur alam tuhan menciptakan alam semesta dengan segala keteraturan yang saling menunjang dan menghidupi. Misalnya rantai makanan, di mana udara, flora, fauna dan manusia terlibat pada peranya masing-masing. Rantai makanan diawali dengan tumbuh-tumbuhan yang menggunakan zat hara yang ada di tanah dan panas sinar matahari untuk membentuk energi, yaitu karbohidrat.
Tumbuhan selanjutnya akan dimakan oleh hewan herbivora yang yang selanjutnya akan di maka pula oleh hewan karnivora. Manusia sebagai konsumen terakhir pada rantai makan akan mengkonsumsi hewan karnivora tersebut. Dilanjutkan dengan di hasilkannya oleh kotoran manusia. Kotoran tersebut nantinya akan di urai oleh mikroorganisme dalam tanah menjadi humus, yang notabene berfungsi penting bagi pertumbuhan tumbuhan. Maka siklus tumbuhannya tumbuhan. Dari uraian di atas dalam dilihat bahwa di antara unsur alam tedapat harmoni yang salingmenunjang dan menghidupi yang sifatnya bertimbal balik.


5.    Kemampuan Berkelanjutan
Kemampuan adalah kapasitas seorang individu untuk melakukan beragam tugas dalam suatu pekerjaan agar tercapai dengan baik.
Beberapa upaya yang dapat dilakuklan masyarakat berkaitan dengan Kemampuan berkelanjutan antara lain:
a.    Pelestarian tanah (tanah datar, lahan miring/perbukitan)
Terjadinya bencana tanah longsor dan banjir menunjukkan peristiwa yang berkaitan dengan masalah tanah. Banjir telah menyebabkan pengikisan lapisan tanah oleh aliran air yang disebut erosi yang berdampak pada hilangnya kesuburan tanah serta terkikisnya lapisan tanah dari permukaan bumi. Tanah longsor disebabkan karena tak ada lagi unsur yang menahan lapisan tanah pada tempatnya sehingga menimbulkan kerusakan. Jika hal tersebut dibiarkan terus berlangsung, maka bukan mustahil jika lingkungan berubah menjadi padang tandus.
Upaya pelestarian tanah dapat dilakukan dengan cara menggalakkan kegiatan menanam pohon atau penghijauan kembali (reboisasi) terhadap tanah yang semula gundul. Untuk daerah perbukitan atau pegunungan yang posisi tanahnya miring perlu dibangun terasering atau sengkedan, sehingga mampu menghambat laju aliran air hujan.

b.   Pelestarian udara
Udara merupakan unsur vital bagi kehidupan, karena setiap organisme bernapas memerlukan udara. Kalian mengetahui bahwa dalam udara terkandung beranekaragam gas, salah satunya oksigen.
Udara yang kotor karena debu atau pun asap sisa pembakaran menyebabkan kadar oksigen berkurang. Keadaan ini sangat membahayakan bagi kelangsungan hidup setiap organisme.
Maka perlu diupayakan kiat-kiat untuk menjaga kesegaran udara lingkungan agar tetap bersih, segar, dan sehat. Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga agar udara tetap bersih dan sehat antara lain:
1)    Menggalakkan penanaman pohon atau pun tanaman hias di sekitar kita, Tanaman dapat menyerap gas-gas yang membahayakan bagi manusia. Tanaman mampu memproduksi oksigen melalui proses fotosintesis. Rusaknya hutan menyebabkan jutaan tanaman lenyap sehingga produksi oksigen bagi atmosfer jauh berkurang, di samping itu tumbuhan juga mengeluarkan uap air, sehingga kelembapan udara akan tetap terjaga.

2)    Mengupayakan pengurangan emisi atau pembuangan gas sisa pembakaran, baik pembakaran hutan maupun pembakaran mesin Asap yang keluar dari knalpot kendaraan dan cerobong asap merupakan penyumbang terbesar kotornya udara di perkotaan dan kawasan industri. Salah satu upaya pengurangan emisi gas berbahaya ke udara adalah dengan menggunakan bahan industri yang aman bagi lingkungan, serta pemasangan filter pada cerobong asap pabrik.


3)    Mengurangi atau bahkan menghindari pemakaian gas kimia yang dapat merusak lapisan ozon di atmosfer Gas freon yang digunakan untuk pendingin pada AC maupun kulkas serta dipergunakan di berbagai produk kosmetika, adalah gas yang dapat bersenyawa dengan gas ozon, sehingga mengakibatkan lapisan ozon menyusut. Lapisan ozon adalah lapisan di atmosfer yang berperan sebagai filter bagi bumi, karena mampu memantulkan kembali sinar ultraviolet ke luar angkasa yang dipancarkan oleh matahari. Sinar ultraviolet yang berlebihan akan merusakkan jaringan kulit dan menyebabkan meningkatnya suhu udara. Pemanasan global terjadi di antaranya karena makin menipisnya lapisan ozon di atmosfer.

c.    Pelestarian hutan
Eksploitasi hutan yang terus menerus berlangsung sejak dahulu hingga kini tanpa diimbangi dengan penanaman kembali, menyebabkan kawasan hutan menjadi rusak. Pembalakan liar yang dilakukan manusia merupakan salah satu penyebab utama terjadinya kerusakan hutan. Padahal hutan merupakan penopang kelestarian kehidupan di bumi, sebab hutan bukan hanya menyediakan bahan pangan maupun bahan produksi, melainkan juga penghasil oksigen, penahan lapisan tanah, dan menyimpan cadangan air. Upaya yang dapat dilakukan untuk melestarikan hutan:
1)    Reboisasi atau penanaman kembali hutan yang gundul.
2)    Melarang pembabatan hutan secara sewenang-wenang.
3)    Menerapkan sistem tebang pilih dalam menebang pohon.
4)    Menerapkan sistem tebang–tanam dalam kegiatan penebangan hutan.
5)    Menerapkan sanksi yang berat bagi mereka yang melanggar ketentuan mengenai pengelolaan hutan.

d.   Pelestarian laut dan pantai
Seperti halnya hutan, laut juga sebagai sumber daya alam potensial. Kerusakan biota laut dan pantai banyak disebabkan karena ulah manusia. Pengambilan pasir pantai, karang di laut, pengrusakan hutan bakau, merupakan kegatan-kegiatan manusia yang mengancam kelestarian laut dan pantai. Terjadinya abrasi yang mengancam kelestarian pantai disebabkan telah hilangnya hutan bakau di sekitar pantai yang merupakan pelindung alami terhadap gempuran ombak. Adapun upaya untuk melestarikan laut dan pantai dapat dilakukan dengan cara:
1)    Melakukan reklamasi pantai dengan menanam kembali tanaman bakau di areal sekitar pantai.
2)    Melarang pengambilan batu karang yang ada di sekitar pantai maupun di dasar laut, karena karang merupakan habitat ikan dan tanaman laut.
3)    Melarang pemakaian bahan peledak dan bahan kimia lainnya dalam mencari ikan.
4)    Melarang pemakaian pukat harimau untuk mencari ikan.

e.    Pelestarian flora dan fauna
Kehidupan di bumi merupakan sistem ketergantungan antara manusia, hewan, tumbuhan, dan alam sekitarnya. Terputusnya salah satu mata rantai dari sistem tersebut akan mengakibatkan gangguan dalam kehidupan.
Oleh karena itu, kelestarian flora dan fauna merupakan hal yang mutlak diperhatikan demi kelangsungan hidup manusia. Upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian flora dan fauna di antaranya adalah:
1)    Mendirikan cagar alam dan suaka margasatwa.
2)    Melarang kegiatan perburuan liar.
3)    Menggalakkan kegiatan penghijauan.








BAB III
PENUTUP
A.  Simpulan
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungan tempat tinggalnya (darat, air, udara). Secara luas/inti ekologi dapat diartikan sebagai ilmu yang membahas tentang hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungan.
Struktur ekosistem menunjukan suatu keadaan dari sistem ekologi pada waktu dan tempat tertentu termasuk keadaan densitas organisme, biomassa, penyebaran materi (unsur hara), energi, serta faktor-faktor fisik dan kimia lainyayang menciptakan keadaan sistem tersebut. Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Prinsip-Prinsip Utama Ekologi terbagi lima, yaitu:
1.    Interaksi
2.    Saling Ketergantungan
3.    Keanekaragaman
4.    Keharmonisan
5.    Kemampuan Berkelanjutan







DAFTAR PUSTAKA






Tidak ada komentar:

Posting Komentar