Masa prasejarah
Bukti adanya kelompok masyarakat
pada masa prasejarah di wilayah
Kabupaten Subang adalah ditemukannya kapak batu di daerah Bojongkeding
(Binong), Pagaden, Kalijati dan Dayeuhkolot (Sagalaherang). Temuan benda-benda
prasejarah bercorak neolitikum ini menandakan bahwa saat itu di wilayah
Kabupaten Subang sekarang sudah ada kelompok masyarakat
yang hidup dari sektor pertanian dengan pola sangat sederhana. Selain itu, dalam
periode prasejarah juga berkembang pula pola kebudayaan perunggu yang
ditandai dengan penemuan situs di Kampung Engkel, Kecamatan Sagalaherang.
Para peneliti, sekarang sedang meneliti situs Nyai Subanglarang, yang diduga
asal-muasal nama "Subang".
Masa penyebaran
agama Hindu
Pada saat berkembangnya corak kebudayaan Hindu, wilayah
Kabupaten Subang menjadi bagian dari 3 kerajaan, yakni Tarumanagara,
Galuh, dan Pajajaran.
Selama berkuasanya 3 kerajaan tersebut, dari wilayah Kabupaten Subang
diperkirakan sudah ada kontak-kontek dengan beberapa kerajaan maritim hingga di
luar kawasan Nusantara.
Peninggalan berupa pecahan-pecahan keramik asal Cina di Patenggeng (Kalijati)
membuktikan bahwa selama abad ke-7 hingga abad ke-15 sudah terjalin kontak perdagangan
dengan wilayah yang jauh. Sumber lain menyebutkan bahwa pada masa tersebut,
wilayah Subang berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda. Kesaksian Tome’ Pires
seorang Portugis yang mengadakan perjalanan keliling Nusantara
menyebutkan bahwa saat menelusuri pantai utara Jawa, kawasan sebelah timur
Sungai Cimanuk hingga Banten adalah wilayah kerajaan Sunda.
Masa penyebaran
agama Islam
Masa datangnya pengaruh kebudayaan Islam di wilayah
Subang tidak terlepas dari peran seorang tokoh ulama, Wangsa
Goparana yang berasal dari Talaga, Majalengka. Sekitar tahun 1530, Wangsa
Goparana membuka permukiman baru di Sagalaherang dan menyebarkan Agama Islam
ke berbagai pelosok Subang.
Masa Hindia
Belanda
Rumah tuan tanah di Subang (tahun 1900-1920).
Pasca runtuhnya kerajaan Pajajaran, wilayah Subang
seperti halnya wilayah lain di P. Jawa, menjadi rebutan berbagai kekuatan.
Tercatat kerajaan Banten, Mataram, Sumedanglarang, VOC, Inggris, dan Kerajaan
Belanda berupaya menanamkan pengaruh di daerah yang cocok untuk dijadikan
kawasan perkebunan serta strategis untuk menjangkau Batavia. Pada saat konflik
Mataram-VOC, wilayah
Kabupaten Subang, terutama di kawasan utara, dijadikan jalur logistik bagi
pasukan Sultan
Agung yang akan menyerang Batavia. Saat itulah terjadi percampuran budaya
antara Jawa dengan Sunda, karena banyak tentara Sultan
Agung yang urung kembali ke Mataram dan menetap di wilayah Subang. Tahun 1771, saat berada di
bawah kekuasaan Kerajaan Sumedanglarang, di Subang, tepatnya di Pagaden,
Pamanukan, dan Ciasem tercatat seorang bupati yang memerintah secara
turun-temurun. Saat pemerintahan Sir Thomas Stamford Raffles (1811-1816) konsesi
penguasaan lahan wilayah Subang diberikan kepada swasta Eropa. Tahun 1812 tercatat sebagai
awal kepemilikan lahan oleh tuan-tuan tanah yang selanjutnya membentuk
perusahaan perkebunan Pamanoekan en Tjiasemlanden (P & T Lands). Penguasaan
lahan yang luas ini bertahan sekalipun kekuasaan sudah beralih ke tangan
pemerintah Kerajaan Belanda. Lahan yang dikuasai penguasa
perkebunan saat itu mencapai 212.900 ha. dengan hak eigendom. Untuk
melaksanakan pemerintahan di daerah ini, pemerintah Belanda membentuk
distrik-distrik yang membawahi onderdistrik. Saat itu, wilayah Subang berada di
bawah pimpinan seorang kontrilor BB (bienenlandsch bestuur) yang berkedudukan
di Subang.
Masa
nasionalisme
Tidak banyak catatan sejarah pergerakan pada awal abad
ke-20 di Kabupaten Subang. Namun, Setelah Kongres Sarekat Islam di bandung
tahun 1916 di Subang berdiri cabang organisasi Sarekat Islam di Desa Pringkasap
(Pabuaran) dan di Sukamandi (Ciasem). Selanjutnya, pada tahun 1928 berdiri Paguyuban
Pasundan yang diketuai Darmodiharjo (karyawan kantor pos), dengan sekretarisnya
Odeng Jayawisastra (karyawan P & T Lands). Tahun 1930, Odeng Jayawisastra
dan rekan-rekannya mengadakan pemogokan di percetakan P & T Lands yang
mengakibatkan aktivitas percetakan tersebut lumpuh untuk beberapa saat.
Akibatnya Odeng Jayawisastra dipecat sebagai karyawan P & T Lands.
Selanjutnya Odeng Jayawisastra dan Tohari mendirikan cabang Partai Nasional Indonesia yang
berkedudukan di Subang. Sementara itu, Darmodiharjo tahun 1935 mendirikan cabang Nahdlatul
Ulama yang diikuti oleh cabang Parindra dan Partindo di Subang. Saat
Gabungan Politik
Indonesia
(GAPI) di Jakarta menuntut Indonesia berparlemen, di Bioskop Sukamandi digelar rapat
akbar GAPI Cabang Subang untuk mengenukakan tuntutan serupa dengan GAPI Pusat.
Masa pendudukan
Jepang
Pendaratan tentara angkatan laut Jepang di pantai
Eretan Timur tanggal 1 Maret 1942 berlanjut dengan direbutnya pangkalan udara
Kalijati. Direbutnya pangkalan ini menjadi catatan tersendiri bagi sejarah
pemerintahan Hindia Belanda, karena tak lama kemudian terjadi
kapitulasi dari tentara Hindia Belanda kepada tentara Jepang. Dengan
demikian, Hindia Belanda di Nusantara
serta merta jatuh ke tangan tentara pendudukan Jepang. Para
pejuang pada masa pendudukan Belanda melanjutkan perjuangan melalui gerakan bawah tanah.
Pada masa pendudukan Jepang ini Sukandi (guru Landschbouw), R. Kartawiguna, dan
Sasmita ditangkap dan dibunuh tentara Jepang.
Masa kemerdekaan
Indonesia
Proklamasi Kemerdekaan RI di Jakarta berimbas
didirikannya berbagai badan perjuangan di Subang, antara lain Badan Keamanan Rakyat (BKR), API, Pesindo,
Lasykar Uruh, dan lain-lain, banyak di antara anggota badan perjuangan ini yang
kemudian menjadi anggota TNI.
Saat tentara KNIL kembali menduduki Bandung, para pejuang di Subang
menghadapinya melalui dua front, yakni front selatan (Lembang) dan front barat
(Gunung Putri dan Bekasi). Tahun 1946, Karesidenan Jakarta berkedudukan di
Subang. Pemilihan wilayah ini tentunya didasarkan atas pertimbangan strategi
perjuangan. Residen pertama adalah Sewaka yang kemudian menjadi Gubernur Jawa
Barat. Kemudian Kusnaeni menggantikannya. Bulan Desember 1946 diangkat
Kosasih Purwanegara, tanpa pencabutan Kusnaeni dari jabatannya. Tak lama
kemudian diangkat pula Mukmin sebagai wakil residen. Pada masa gerilya selama Agresi Militer Belanda I, residen tak
pernah jauh meninggalkan Subang, sesuai dengan garis komando pusat. Bersama
para pejuang, saat itu residen bermukim di daerah Songgom, Surian, dan Cimenteng.
Tanggal 26 Oktober 1947 Residen Kosasih Purwanagara meninggalkan Subang dan
pejabat Residen Mukmin yang meninggalkan Purwakarta tanggal 6 Februari
1948 tidak pernah
mengirim berita ke wilayah perjuangannya. Hal ini mendorong diadakannya rapat
pada tanggal 5
April 1948 di
Cimanggu, Desa Cimenteng. Di bawah pimpinan Karlan, rapat memutuskan :
1.Wakil Residen Mukmin ditunjuk menjadi Residen yang berkedudukan di daerah
gerilya Purwakarta. 2.Wilayah Karawang Timur menjadi Kabupaten Karawang
Timur dengan bupati pertamanya Danta Gandawikarma. 3.Wilayah Karawang Barat
menjadi Kabupaten Karawang Barat dengan bupati pertamanya Syafei. Wilayah
Kabupaten Karawang Timur adalah wilayah Kabupaten Subang dan Kabupaten Purwakarta sekarang. Saat itu, kedua
wilayah tersebut bernama Kabupaten Purwakarta dengan ibu kotanya Subang. Penetapan
nama Kabupaten Karawang
Timur pada tanggal 5 April 1948 dijadikan momentum untuk kelahiran Kabupaten Subang yang
kemudian ditetapkan melalui Keputusan DPRD No.: 01/SK/DPRD/1977.
Iklim
Tingkat kemiringan dan Iklim dilihat dari
tingkat kemiringan lahan, sekitar 80.80 % wilayah Kabupaten memiliki
tingkat kemiringan 0° - 17°, 10.64 % dengan tingkat kemiringan 18° - 45°
sedangkan sisanya (8.56 % memiliki kemiringan di atas 45 °. Secara umum
wilayah Kabupaten Subang beriklim tropis, dalam tahun 2005 curah hujan rata-rata pertahun 2.352 mm dengan jumlah hari hujan 100
hari. Dengan iklim yang demikian, serta ditunjang oleh adanya lahan yang subur
dan banyaknya aliran sungai, menjadikan sebagian besar luas tanah Kabupaten Subang
digunakan untuk Pertanian.
Geografi
Wilayah Kabupaten Subang terbagi menjadi 3 bagian
wilayah, yakni wilayah selatan, wilayah tengah dan wilayah utara. Bagian
selatan wilayah Kabupaten Subang terdiri atas dataran tinggi/pegunungan, bagian
tengah wilayah Kabupaten Subang berupa dataran, sedangkan bagian Utara
merupakan dataran rendah yang mengarah langsung ke Laut Jawa.
Sebagian besar wilayah Pada bagian selatan kabupaten Subang berupa Perkebunan,
baik perkebunan Negara maupun perkebunan rakyat, hutan dan lokasi Pariwisata.
Pada bagian tengah wilayah kabupaten Subang berkembang perkebunan karet, tebu
dan buah-buahan dibidang pertanian dan pabrik-pabrik dibidang Industri, selain
perumahan dan pusat pemerintahan serta instalasi militer. Kemudian pada bagian
utara wilayah Kabupaten Subang berupa sawah berpengairan
teknis dan tambak serta pantai.
Topografi
Berdasarkan tofografinya, wilayah kabupaten Subang dapat
dibagi ke dalam 3 zona, yaitu:
Daerah
pegunungan (Subang bagian selatan)
Daerah ini memiliki katinggian antara 500-1500 m dpl dengan
luas 41.035,09 hektare atau 20 persen dari seluruh luas wilayah Kabupaten
Subang. Wilayah ini meliputi Kecamatan Jalancagak, Ciater, Kasomalang,
Sagalaherang, Serangpanjang,sebagian besar Kecamatan Jalancagak dan sebagian
besar Kecamatan Tanjungsiang.
Daerah berbukit
dan dataran (Subang bagian tengah)
Daerah dengan ketinggian antara 50 – 500 m dpl dengan luas
wilayah 71.502,16 hektare atau 34,85 persen dari seluruh luas wilayah Kabupaten
Subang. Zona ini meliputi wilayah Kecamatan Cijambe, Subang, Cibogo, Kalijati,
Dawuan, Cipeundeuy, sebagian besar Kecamatan Purwadadi, Cikaum dan Pagaden
Barat.
Daerah dataran
rendah (Subang bagian utara)
Dengan ketinggian antara 0-50 m dpl dengan luas
92.639,7 hektare atau 45,15 persen dari seluruh luas wilayah Kabupaten Subang.
Wilayah ini meliputi Kecamatan Pabuaran, Pagaden, Cipunagara, Compreng, Ciasem,
Pusakanagara, Pusakajaya Pamanukan, Sukasari, Legonkulon, Blanakan, Patokbeusi,
Tambakdahan, sebagian Pagaden Barat.
Transportasi
Kabupaten Subang dilewati jalur utama pada wilayah
Utaranya dan dimanfaatkan juga sebagai jalur alternatif untuk ke Bandung,
Cirebon atau Tasikmalaya. Lintas Subang - Bandung melalui Kalijati semakin
diminati para pengemudi karena jalannya yang halus dan bebas hambatan apalagi
setelah dibukanya Gerbang Tol Keluar di daerah Sadang. Persimpangan Jalancagak
merupakan persimpangan strategis karena dari persimpangan tersebut dapat
menjangkau Bandung - Sumedang - Sadang melalui Wanayasa dan Kota Subang
sendiri. Bila dilihat dari pola jaringan jalan yang ada, aksesibilitas jaringan
jalan di kabupaten subang bersifat sentris, dimana pergerakan antar wilayah
yang berseberangan akan melewati ibu kota Kabupaten Subang yang berada pada pusat wilayah
kabupaten subang secara keseluruhan. Hal ini sebenarnya merupakan potensi
positif bagi kota subang sebagai pusat dari CBD kabupaten subang dalam upaya
pengembangan daerah, namun disisi lain akumulasi dampak negatif muncul ketika
tingkat pengelolan jaringan jalan sebagai aksesibilitas pergerakan relatif
rendah juga faktor kondisi prasarana jalan dibeberapa segmen ruas jalan di kota
yang masih dalam kondisi rusak secara strukural. masih kurang nya apresiasi
masyarakat sekitar terhadap tingkat kinerja aksesibilitas yang dimiliki akan
berdampak negatif terhadap pengembangan daerah secara keseluruhan, hal ini
terlihat pada tingkat kepedulian masyarakat terhadap kondisi jaringan jalan
bilamana jalan tersebut dalam keadaan butuh perbaikan masih relatif rendah,
ditambah lagi dengan upaya penanganan pemerintah daerah yang dinilai sangat
lamban terhadap kondisi serupa. Tema "Rakyat Subang Gotong Royong Subang
Maju" diharapkan akan menjadi pemicu semangat Pemerintah
Daerah sebagai pengelola sekaligus warga subang secara keseluruhan dalam
merealisasikan cita-cita luhur Kabupaten Subang khususnya dalam upaya
pengelolaan di atas.
Secara kuantitas maupun kualitas, kondisi angkutan
umum di kota subang belum mampu mengakomodir mobilitas masyarakat subang, hal
ini disebabkan keterbatasan trayek/rute dari angkutan kota yang belum
menjangkau kawasan padat penduduk secara keseluruhan yang mendorong masyarakat
lebih memilih untuk menggunakan sarana transportasi
pribadi dibandingkan angkutan umum. Efek negatif dari kondisi tersebut sudah
terlihat, dimana pada beberapa ruas khususnya jalan pemukiman intensitas
kemacetan menjadi lebih tinggi. hal ini perlu perhatian lebih serius guna
mengantisipasi situasi yang lebih parah lagi di kemudian hari. Dengan belajar
dari daerah lain yang jauh lebih maju, konsekuensi dari kondisi ini akan mahal
harganya jika tidak ditangani sejak dini.
Penduduk
|
Tahun
|
Jumlah penduduk
|
|
1.329.838
|
|
|
1.465.157
|
|
|
1.501.647
|
|
|
Kependudukan di Kabupaten Subang
Sumber:[11] |
|
Penduduk Kabupaten Subang pada tahun 2012 berjumlah
1.501.647 orang, yang terdiri atas 759.408 orang laki-laki dan 742.239 orang
perempuan dengan pertumbuhan penduduk sebesar 0,64%. sedangkan Laju Pertumbuhan
Penduduk antar Sensus (SP2000-SP2010) rata rata pertahun sebesar 0,97%. Dengan
luas Kabupaten Subang sebesar 2051,76 km2, maka tingkat kepadatan penduduk
Kabupaten Subang pada tahun 2012 mencapai 732 jiwa/km2. Pertumbuhan penduduk di Kabupaten
Subang masih relatif rendah, merupakan indikasi bahwa Kabupaten Subang bukan
merupakan daerah tujuan urbanisasi. Kebijakan pemerintah yang memposisikan
Kabupaten Subang sebagai salah satu lumbung padi Jawa Barat,
juga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan penduduk serta kepadatan penduduk di wilayah ini. Penduduk
berjumlah besar sekaligus berkualitas merupakan modal pelaksanaan pembangunan
dan potensi bagi peningkatan pembangunan di segala bidang. Namun penduduk yang
berjumlah besar tanpa diupayakan pengembangan kualitasnya akan menjadi beban
bagi pembangunan yang seharusnya dinikmati oleh keseluruhan penduduk tersebut.
Pertumbuhan penduduk selalu dipengaruhi oleh faktor
tingkat kelahiran/kematian dan migrasi (perpindahan penduduk antar kabupaten).
Untuk menghindari permasalah yang kompleks akibat tingginya kepadatan penduduk maka pengendalian penduduk
melalui berbagai cara yang tepat tentunya harus dilakukan. Laju urbanisasi
yang tinggi yang mengakibatkan permasalahan sosial di daerah perkotaan juga
harus ditekan, karena selain menimbulkan masalah sosial di daerah perkotaan, urbanisasi
juga meninggalkan ruang kosong dipedesaan (banyak lahan garapan yang tidak
tergarap secara optimal dan berkurangnya sumber daya manusia berkualitas di
pedesaan).
Penduduk Subang pada umumnya adalah Suku Sunda,
yang menggunakan Bahasa Sunda sebagai bahasa sehari-hari. Sementara
kecamatan-kecamatan di wilayah pesisir subang dan beberapa kecamatan di
sepanjang sungai Cipunegara yang berbatasan dengan Kabupaten Indramayu penduduknya menggunakan bahasa
Cirebon yang hampir serupa dengan bahasa cirebon dialek Indramayu atau yang
lebih dikenal dengan nama basa Dermayon
Berikut merupakan contoh percakapan yang terjadi di
wilayah sekitar kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang.[12][13]
Ita : Mas boleh ngobrol-ngobrol sebentar?
Mas Radi : Boleh, ini ada apa?
Ita : Enggak, kita cuma sedang jalan-jalan untuk mengetahui iibahasa di sini.
Nurul : Daerah sini masih Sukamahi?
Mas Radi : Iya Sukamahi
Retno : Kalau disini semua pakai bahasa jawa ya Mas?
Mas Radi : Ya sawarehlah, tapi sundanya juga ada campuran kejawa-jawaan.
Siti : Tos sabaraha lami di Sukamahi Mas?
Mas Radi : Di dieu mah nembe 6 sasih, tiheula mah dipalih kaler, da di iidieu mah kontrakan.
Ita : Pami kanu sepuh Mas nganggo bahasa sunda atau jawa?
Mas Radi : Nya teu langkung nungajak ngomongna, ai abdi mah bade iijawa, sunda oge tiasa.
Satria : bahasa jawa lengkene contona apa Pa?
Bapak Susilo : Ya Jawa
Satria : Ya bahasa Jawa lengkene serupa kaya apa?
Bapak Susilo : Jawa Indramayu
Satria : Lengkenena pendatang ora?
Bapak Susilo : Akeh
Satria : Lengkene bahasa Jawa Tengah ora Pa?
Bapak Susilo : Bahasa Jawa Tengan ana mah ana, tapi ngomongna jawa ngeneh. Jawa Indramayu lah biasa. Bahasa sundane sing seperempat, sing akeh bahasa jawa.
Satria : Akehlah bahasa jawa ngono?
Bapak Susilo : Jawane jawa kuol.
Pada percakapan diatas tampak sebuah dialek bahasa Cirebon yang mirip dengan bahasa Cirebon dialek indramayu atau yang biasa disebut basa Dermayon namun tidak sepenuhnya mirip karena mendapat beberapa sisipan dari bahasa lokal yang ada, sehingga salah satu penduduknya menyebut ini sebagai jawareh yang artinya jawa sewareh (setengah jawa). Dikarenakan metode guiter sebagai metode pembeda bahasa menunjukan bahwa bahasa Cirebon dengan bahasa Jawa memiliki perbedaan sekitar 75% dari syaratnya adalah 80% maka masih banyak para peneliti yang menggunakan kata bahasa jawa dialek cirebon untuk menyebut bahasa cirebon dan seluruh dialeknya daripada langsung menyebutnya sebagai bahasa Cirebon. Namun pada Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat No. 5 Tahun 2003 yang juga merupakan masukan para budayawan cirebon - indramayu dan suku asli lainnya di Jawa Barat maka Peraturan Daerah tersebut telah mengakomodir dengan memberikan payung hukum akan perlindungan yang jelas kepada bahasa Cirebon sebagai bahasa yang mandiri terlepas dari bahasa Jawa, bukti perlindungan hukum akan penyebutan bahasa Cirebon sebagai bahasa yang mandiri ini juga telah tertuang dengan diterbitkannya sebuah peta budaya provinsi jawa barat pada tahun 2011 yang menjabarkan secara terperinci penyebaran bahasa Cirebon, bahasa Cirebon dialek indramayu atau biasa disebut basa dermayon dan bahasa jawa, sehingga jelas terlihat perbedaan yang nyata dalam pola sebaran bahasa daerah di Jawa Barat tentang mana yang disebut sebagai bahasa Cirebon dan mana yang disebut sebagai bahasa jawa.
Perekonomian
Pabrik di Subang (tahun 1910-an).
Karena sebagian besar penduduknya masih berpenghasilan
utama sebagai petani dan buruh perkebunan, maka perekonomian Subang masih
banyak ditunjang dari sektor pertanian. Subang wilayah Selatan banyak terdapat
area perkebunan,
seperti karet pada
bagian Barat Laut dan Kebun Teh yang sangat luas.
Subang terkenal sebagai salah satu daerah penghasil buah nanas yang umumnya
kita kenal dengan nama Nanas Madu. Nanas Madu dapat kita temui di sepanjang Jalancagak yang
merupakan persimpangan antara Wanayasa - Bandung - Sumedang dan Kota Subang
sendiri. Dodol nanas, keripik singkong dan selai yang merupakan hasil home
industry yang dapat dijadikan makanan oleh-oleh.
Melalui program binaan dibawah naungan Yayasan
Kandaga, para petani sedang membudidayakan jamur tiram dan perikanan di desa
Cipunagara. Sedangkan di desa Cibogo, selain membudidayakan jamur tiram dan
tanaman hias serta tanaman nilam, Yayasan Kandaga juga menggalakkan ternak
kelinci dan penyulingan minyak nilam serta bioetanol. Dan saat ini sedang
diupayakan untuk membudidaya ternak kelinci, budidaya ternak lele bagi
masyarakat yang memiliki sosial ekonomi kurang beruntung yang terlibat di dalam
Program Kesetaraan (Program Paket B) dan Keaksaraan (PBH=Pemberantasan Buta
Huruf) dalam rangka menggali dan mengembangkan sumber daya lokal baik SDM
maupun SDA yang ada serta untuk melestarikan budaya bangsa dan mengembangkan
wisata budaya wisata agro sebagai aset bangsa khususnya di daerah tutugan G.
Canggah yang berada diketinggian 1600 mdpl dengan dikelilingi panorama yang
sangat mengagumkan. Sebagai akselerasi dan penggerak program di atas, Yayasan
Kandaga membuat suatu pusta pelatihan dan Pemberdayaan masyarakat yang disebut
PLPM Haur Kuning (Pusat Latihan dan Pemberdayaan Masyarakat "Hayu Urang
Kumpul Ningkatkeun Elmu"). Hingga saat ini sudah seringkali dikunjungi
dari negara Amerika Serikat, Korea
Selatan/Korea Utara dan Jerman, termasuk
dari tim akademisi perguruan tinggi lokal serta para praktisi dari
seluruh Indonesia
dari Pendidikan
Luar Sekolah (Pendidikan Non-Formal)
Pendidikan
Pendidikan merupakan modal dasar pembangunan. karena
pelaksanaan pembangunan tidak cukup mengandalkan kepada sumber daya alam (SDA)
saja, tetapi juga harus meningkatkan sumber daya manusianya (SDM). Suatu
wilayah yang mempunyai kepadatan yang tinggi tanpa dibarengi dengan mutu SDM
yang tinggi maka akan menimbulkan kerawanan sosial atau bahkan penduduk
tersebut akan menjadi beban pembangunan. Jalur yang paling realistis untuk
meningkatkan SDM adalah jalur pendidikan.
Sejak tahun 1994, pemerintah telah melakukan kebijakan
untuk perbaikan dunia pendidikan yaitu dengan dicanangkannya Program Wajib Belajar
sembilan tahun. Tentunya hal tersebut merupakan hal yang menggembirakan karena
kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang setinggi–tingginya bagi seluruh
rakyat semakin terbuka. Perkembangan mutu pendidikan penduduk Kabupaten Subang
salah satunya dapat dilihat dari kemampuan baca-tulis, pendidikan yang
ditamatkan dan lain-lain.
Dari hasil survei IPM tahun 2012 dapat diperoleh
gambaran bahwa penduduk 10 tahun ke atas di Kabupaten Subang yang dapat membaca
dan menulis huruf latin sebesar 91.43%, huruf lainnya 0.27%, sedangkan yang
tidak dapat membaca dan menulis sebesar 8.30&. Bila dilihat dari pendidikan
tertinggi yang ditamatkan penduduk Kabupaten Subang masih terbesar di tamatan
SD/MI sebesar 39.25%, SLP/MTs sederajat 19.48%.
|
Jumlah satuan
|
850
|
81
|
38
|
4
|
|
|
Data sekolah
di Kabupaten Subang
Sumber:[14] |
|||||
Kesehatan
Mewujudkan masyarakat yang sehat, tanpa membedakan
jenis kelamin laki-laki atau perempuan merupakan salah satu tujuan dari pembangunan
nasional. Adanya keterbatasan dana, sarana, dan prasarana pemerintah,
dalam pelaksanaannya, pembangunan kesehatan
disusun berdasarkan prioritas-prioritas utama yang akan dicapai. Karena itu
hasilnya mungkin tidak dapat dirasakan secara merata oleh semua lapisan masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Subang telah melakukan berbagai macam upaya dalam melakukan
peningkatan kesehatan masyarakat. Terutama peningkatan kesehatan masyarakat
miskin dengan pemberlakuan Jamkesmas, Jamkesda, dan jaminan lainnya
Pariwisata
Kawah Gunung Tangkuban Perahu, Subang-Bandung, Jawa Barat.
Di antara rimbunnya perkebunan teh, diwilayah Selatan
Kabupaten Subang memiliki sumber mata air panas yang terus mengalir di daerah Ciater.
Sari Ater merupakan tujuan wisata yang sangat terkenal karena ke-khasan-nya dan
ramai pada saat liburan terutama pada saat liburan Hari Raya Lebaran. Selain
menyediakan kolam pemandian air panas juga memiliki penginapan - penginapan
yang terjangkau dan berkualitas, sehingga sangat cocok bagi keluarga yang ingin
berlibur. Kemudian juga terdapat sebuah tempat Spa yang letaknya berdekatan
dengan obyek wisata Sari Ater. Selain itu Kabupaten Subang memiliki tujuan
wisata alam air terjun yang memiliki pemandangan yang sangat indah, yaitu Curug
Cijalu. Meskipun masih dikelola secara sederhana, Curug
Cijalu memiliki daya tarik yang luar biasa karena curug ini memiliki tujuh
curug, namun yang hanya bisa didatangi oleh pengunjung hanya dua, karena
letaknya cukup dekat dan curug lainnya berada di tengah-tengah hutan dan cukup
jauh, tetapi jika kita ingin melihat ke tujuh curug tersebut bisa saja dan akan
menjadi pengalaman yang luar biasa. Ada juga Curug Cileat yang berada di Kecamatan
Cisalak dan Curug Cibareuhbeuy yang tak kalah keeksotisannya. Gunung berapi
Tangkuban
Perahu (su: Tangkuban Parahu) yang memiliki keindahan kawahnya dan
udaranya yang sejuk. Di bagian subang tengah terdapat berbagai wisata dari
wisata kuliner hingga sejarah dan budaya seperti, Masjid Agung Al-Musabaqoh
Subang, Gedung Wisma Karya, Museum Daerah, dan lain sebagainya. Di bagian
pesisir utara Subang menyajikan wisata pantai, yakni Pantai Kalapa Patimban
Subang yang setiap tahunnya mengadakan Upacara Adat Nadran.
Objek wisata
Berikut beberapa Objek Wisata terkenal di Kabupaten
Subang:
Wisata rekreasi
- Capolaga Adventure Camp
- Ciater Highland Resort
- Curug Agung/Batu Kapur
- Curug Bentang
- Curug Cibareuhbeuy
- Curug Cijalu
- Curug Cileat
- Desa Wisata Sari Bunihayu
- Desa Adat Wisata Wangunharja
- Kampoeng Jatimas
- Wisata Air Cigayonggong
- Pemancingan Lembah Gunung Kujang
- Sariater Spa Spring Resort
- Gunung Tangkuban Parahu
- Kolam Renang Ciheuleut
- Waterboom Tirta Melati (pagaden)
- Planet Waterboom
- Penangkaran Buaya Blanakan
- Pantai Kalapa Patimban
- Kolam Renang Tirta Citapen
- Curug Cijuhung Dawuan
- Kolam Renang Tirta Galih
Wisata sejarah,
budaya, dan religi
- Gedung Wisma Karya, Subang
Gedung ini terletak di Jl. Ade Irma Suryani, Subang.
Gedung ini dibangun ketika Masa Penjajahan Belanda. Gedung ini digunakan untuk
Berdansa dan berpesta ketika zaman itu. Namun sekarang gedung tersebut
digunakan untuk public space dan aktivitas masyarakat Kota Subang. Di Gedung
ini juga terdapat Museum
Sejarah
Kabupaten Subang, salah satunya patung tuan tanah, Willem Hofland.[15]
- Masjid Agung Al-Musabaqoh Subang
- Gedung Gede / Big House
- Museum Rumah Sejarah Perjanjian Kalijati
- Museum Daerah Kabupaten Subang
- Museum Amerta Dirgantara
- Makam Raden Aria Wangsa Goparana
Wisata kuliner
- Oncom Dawuan
- Krupuk Miskin Purwadadi
- Nanas Simadu
- Olahan Nanas
- Gepuk
- Ubi Cilembu
- R.M. Abah
- R.M. Mang Yeye
- Nasi Liwet Mang Aca
- Nasi Liwet Mang Nana
- Keripik Pisang 69
- Rambutan Kalijati
- R.M. Nangka
Kesenian
Subang memiliki beberapa Kesenian yang
tidak dimiliki oleh kabupaten/kota lain. Kesenian-kesenian tersebut berkembang
di masyarakat Subang sejak Masa Penjajahan dulu.
Berikut kesenian dan kebudayaan
asli Kabupaten Subang:
Olahraga
Subang memiliki klub sepak bola, yang bernama Persikas
Subang, yang bermain di Divisi Tiga. Klub ini bermain di Stadion Persikas, Subang.
Stadion Persikas juga sering dipakai sebagai training center beberapa
tim lainnya di Jawa Barat, seperti Persib
Bandung, Persikab Kabupaten Bandung, dan Bandung FC
dalam masa pemusatan latihan sebelum memulai kompetisi.
Selain dalam cabang olah raga sepak bola, Kabupaten
Subang telah melahirkan atlet-atlet berprestasi dalam cabang olah raga dayung, judo, angkat
berat, balap motor, sepak
takraw dsb. Dan diantaranya pernah meraih medali emas pada Pekan Olahraga Nasional XVII di Provinsi Kalimantan
Timur.
Lihat pula
![]() |
![]() |
|||
|
|
||||
|
||||
|
|
||||
Referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Subang



